Saturday, March 20, 2010

Keiklasan, Kunci Kebahagiaan

Para mentor dan penggiat motivasi selalu menanamkan kepada kita untuk pantang menyerah. Kesulitan apapun, persoalan apapun, semuanya pasti bisa diatasi. Begitu pula untuk mencapai keberhasilan, gantungkan cita-cita pada bintang-bintang di langit. Katakan bahwa "Aku Bisa", maka bisalah kita menggapainya. Jatuh bangun dan jatuh lagi, kemudian bangun lagi... Jangan pernah berhenti untuk berjuang. Menyerah menandakan jiwa yang lemah. Memaafkan kegagalan adalah simbol kerapuhan. Tetapi, saya katakan, ada kalanya kita harus mampu dengan rendah hati untuk mengatakan bahwa "Saya Tidak Mampu".

Ketika kita mampu dengan iklas mengakui keterbatasan dan kelemahan diri kita, akan ada kekuatan baru yang tumbuh. Kekuatan untuk mampu menghadapi apapun dan bagaimanapun kenyataan. Kekuatan tersebut akan membangun sebuah sikap memaafkan segala kemungkinan. Sebab, kita memang tidak mampu sepenuhnya mengendalikan hidup kita seperti yang kita pikirkan. Kita tidak mampu mencegah wafatnya kakek kita. Kita tidak mampu menyenangkan semua orang. Kita tidak mampu membangun kekayaan seperti para konglomerat. Beginilah mampunya kita. Terimalah ini apa adanya, sebab inilah yang terbaik yang dapat kita capai saat ini.

Keiklasan bukanlah sikap pasif. Iklas berarti ada sebuah upaya yang seharusnya menjadi hak kita, tetapi itu kita relakan untuk tidak kita nikmati. Kita mempunyai hak yang sama untuk sukses, untuk kaya, untuk berkuasa. Tetapi jika kita tidak mampu mewujudnyatakan hak itu, biarkanlah itu tidak kita nikmati. Nikmatilah apa yang mampu kita capai. Inilah kunci kebahagiaan itu. Menjalani hidup dengan iklas.